PEMERIKSAAN FISIK Vertigo

December 11, 2018 | Author: dyunike | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Download PEMERIKSAAN FISIK Vertigo...

Description

PEMERIKSAAN FISIK 

Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab, baik kelainan sistemik, otologik atau neurologik neurologik – vestibuler vestibuler atau serebeler; serebeler; dapat berupa pemeriksaan pemeriksaan fungsi pendengaran pendengaran dan keseimbangan, gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. Pendek Pendekata atan n klinis klinis terhad terhadap ap keluha keluhan n verti vertigo go adalah adalah untuk untuk menent menentuka ukan n penyeb penyebab; ab; apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat –  korteks serebri, serebelum,batang otak, atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik; selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung, hipertensi, hipotensi, gagal jantung kongestif, anemi, hipoglikemi. Dalam menghadapi kasus vertigo, pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya, lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya, agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. Pemeriksaan Fisik Umum

Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik; tekanan darah diukur  dalam posisi berbaring,duduk dan berdiri; bising karotis, irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. Fungsi vestibuler/serebeler  a. Uji Romberg : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan kedua mata terbuka terbuka kemudian kemudian tertutup. Biarkan pada posisi posisi demikian selama 20-30 detik. detik. Harus dipastikan dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya posisinya (misalnya (misalnya dengan  bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup  badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup.

Gambar 1. Uji Romberg 

  b. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang, dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. c. Uji Unterberger. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Pada kelainan vestibuler posisi  penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar  cakram; kepala dan badan berputar ke arah lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi.

Gambar 2. Unterberger Tes

d. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi.

Gambar 3. Uji Tunjuk Barany

e. Uji Babinsky-Weil Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit; jika ada gangguan vestibuler unilateral,  pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang.

Gambar 4. Uji Babinsky Weil

Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis Pemeriksaan ini untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. 1. Fungsi Vestibuler

a. Uji Dix Hallpike  perhatikan adanya nistagmus; lakukan uji ini ke kiri dan kanan

Kepala putar ke samping

Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang)

Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 5. Uji Dix-Hallpike

Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat, sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal, kemudian

kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus, dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik, hilang dalam waktu kurang dari 1 menit, akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). Sentral: tidak ada periode laten, nistagmus dan vertigo ber-langsung lebih dari 1 menit, bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue).  b. Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º, sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air  hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga, baik  setelah rangsang air hangat maupun air dingin, sedangkan directional preponderance ialah  jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. VIII, sedangkan directional  preponderance menunjukkan lesi sentral.

Pemeriksaan

1. Gejala objektif daripada vertigo ialah adanya nistagmus   Nistagmus mempunyai ciri sesuai gerakannya (misalnya “jerk” dan pedunlar), menurut bidang gerakannya (horizontal, rotatoar, vertical, campuran), arah gerakan, amplitude dan lamanya nistagmus berlangsung. Dianggap berasal dari susunan saraf   pusat (sentral) yaitu nistagmus yang vertikal murni, nistagmus yang berubah arah, nistagmus yang sangat aktif namun tanpa vertigo. Didapat pada gangguan vestibular   perifer yaitu nistagmus yang rotatoar. 2. Tes Romberg dipertajam Pada tes ini penderita berdiri dengan kaki yang satu di depan kaki yang lainnya, tumit kaki yang satu berada di depan jari-jari kaki yang lainnya (tandem). Lengan dilipat pada dada dan mata kemudian ditutup. Orang normal mampu berdiri dalam sikap Romberg yang dipertajam selama 30 detik atau lebih. 3. Tes melangkah di tempat (stepping test) Penderita disuruh berjalan di tempat, dengan mata ditutup, sebanyak 50 langkah dengan kecepatan seperti berjalan biasa. Harus berusaha agar tetap ditempat dan tidak beranjak selama tes ini. Tes ini dapat mendeteksi gangguan sistem vestibular. Kedudukan akhir dianggap abnormal bila penderita beranjak lebih dari 1 meter atau  badan terputar lebih dari 30 derajat. 4. Salah tunjuk (past – pointing) Penderita disuruh merentangkan lengannya dan telunjuknya menyentuh telunjuk   pemeriksa. Kemudian ia disuruh menutup mata, mengangkat lengannya tinggitinggi dan kemudian kembali ke posisi semula. Pada gangguan vestibular  didapatkan salah tunjuk (deviasi) demikian juga dengan gangguan serebelar. 5. Maneuver Nylen – Barany atau Manuver Hallpike Untuk membangkitkan vertigo dan nistagmus posisional pada penderita dengan gangguan sistem vestibular dan dilakukan maneuver Hallpike. Pada tes ini penderita disuruh duduk di tempat tidur periksa. Kemudian ia direbahkan sampai kepala  bergantung di pinggir tempat tidur dengan sudut sekitar 30 derajat dibawah horizon

kepala ditolehkan ke kiri. Tes kemudian diulang dengan kepala melihat lurus, dan diulangi lagi dengan kepala menoleh ke kanan. Penderita disuruh tetap membuka matanya agar pemeriksa dapat melihat kapan muncul nistagmus. 6. Tes kalori Kepala penderita diangkat ke belakang (menengadah) sebanyak 60 derajat (tujuannya ialah agar bejana lateral di labirin berada dalam posisi vertical, dengan demikian dapat dipengaruhi secara maksimal oleh aliran konveksi yang diakibatkan oleh endolimf). Tabung suntik berukuran 20 ml dengan ujung jarum yang dilindungi dengan karet berukuran nomor 15 diisi dengan air bersuhu 30° C. air  disemprotkan ke liang telinga dengan kecepatan 1 ml/detik. Arah nistagmus ialah ke sisi yang berlawanan dengan sisi telinga yang dialiri. Arah gerakan dicatat, frekuensinya juga (biasanya 3-5x/detik), dan lamanya biasanya1/2-2 menit. Setelah  beristirahat 5 menit, telinga kedua dites. 7. Elektronistagmografi Pada pemeriksaan ini diberikan stimulus kalori ke liang telinga dan lamanya serta cepatnya nistagmus yang timbul dicatat pada kertas, menggunakan teknik yang mirip dengan elektrokardiografi. 8. Posturografi Dalam mempertahankan keseimbangan terdapat 3 unsur yang memainkan peranan   penting, yaitu sistem visual, vestibular, dan somatosensorik. Dengan tes  posturografi dapat dievaluasi sistem visual, vestibular dan somatosensorik.

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF